7etrunojoyo-e1464607954724Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir meresmikan penggunaan gedung baru Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Selasa 3 Mei 2016. Bersamaan dengan itu, diluncurkan pula varietas baru jagung madura.

Gedung pertemuan yang diresmikan berkapasitas 4.507 orang, varietas baru itu diberi nama Madura 1 dan Madura 2. “Varietas baru ini mampu menghasilkan 7 ton per hektar di UTM. Dengan luas area tanaman jagung se- Madura 360.000 hektar, maka Indonesia tidak perlu impor jagung lagi karena akan ada 2,5 juta ton. Padahal, setiap tahun Indonesia mengimpor 2 juta ton,” ungkap Rektor UTM H. Moh. Syarif.

Penemuan varietas unggul ini, lanjut Rektor, merupakan wujud partisipasi UTM untuk meningkatkan produktivitas jagung dan perekonomian masyarakat. “Alhamdulillah, ini bukti konkret sumbangsih para peneliti UTM untuk masyarakat, untuk Madura, dan untuk Indonesia,” katanya.

Peluncuran jagung varietas unggul itu juga sebagai bukti pengembangan pendidikan tinggi berbasis klaster yang dikembangkan UTM mulai menunjukkan hasil. “Ada enam sektor unggulan UTM sebagai konstribusi riil bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, yakni Garam dan Tembakau; Pangan (Jagung, Singkong, Tebu, Sapi, Hasil Laut); Energi (Migas dan Energi terbarukan); Pendidikan (Formal, Informal dan Nonformal); Sosial, Tenaga Kerja, dan Wanita; Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Seni, Bahasa, Budaya, Jamu, Batik, Kuliner, Infrastruktur, Tata Ruang, Lingkungan, Pulau-pulau Kecil, Teknologi),” ujar Rektor.

Terpisah, Ketua Tim Peneliti Achamd Amzeri menyatakan produktivitas jagung di Pulau Madura menurut data BPS (2015) berkisar 2,7 ton per hektar. Angka tersebut sangat jauh dari daerah penghasil jagung lainnya. “Rendahnya produktivitas jagung di Madura memengaruhi produktivitas jagung di Jawa Timur, karena kurang lebih 30% areal pertanaman jagung di Jawa Timur berada di Madura, yaitu 360.000 hektar dari total 1.215.354 hektar areal pertanaman jagung di Jawa Timur,” katanya.

Dia juga mangatakan, rendahnya produktivitas jagung di Madura disebabkan oleh lahan yang kurang subur, curah hujan yang rendah, dan penggunaan benih lokal yang mempunyai produktivitas rendah. Di Madura, lebih dari 90% jagung yang dikembangkan untuk pangan adalah jenis lokal, sedangkan di Jawa Timur, selain Madura, lebih dari 70% oleh varietas unggul bersari bebas dan hibrida.

Untuk mengatasi permasalahan itu, sejak 2007 UTM secara intensif melakukan riset untuk meningkatkan produktivitas jagung Madura. Melalui kerja sama dengan Balitsereal Maros, UTM menghasilkan beberapa varietas unggul, yaitu Madura-3, Madura-4, Madura-5, dan Madura-6, yang akan dilepas pada tahun 2017.

Untuk meningkatkan produktivitas jagung Madura pada tahun 2016, UTM melisensi jagung unggul Balitsereal menjadi varietas Madura-1 dan Madura-2, yang diuji di Madura. Kedua varietas tersebut telah menunjukkan potensi unggul dengan produksi rata-rata 7 ton per hektar. Madura-1 mempunyai karakter biji dengan kandungan protein tinggi, sedangkan Madura-2 mempunyai kandungan beta karoten tinggi, sehingga kedua varietas tersebut sangat sesuai apabila digunakan sebagai bahan pangan dan pakan.

 

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *