IMG_6367Seleksi wawancara Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Luar Negeri (BUDI LN) telah dimulai (21/6) untuk wilayah Jakarta dan Batam. Dari 1.811 pendaftar, terpilih 273 peserta yang memiliki kesempatan untuk lanjut ke tahap berikutnya. Wawancara merupakan seleksi terberat yang harus dilalui oleh para calon penerima beasiswa, pasalnya reviewer yang ditugaskan berasal dari akademisi berbagai perguruan tinggi di Indonesia, beberapa di antaranya menjabat sebagai profesor. Proses seleksi wawancara akan dilaksanakan secara bergantian selama 6 hari di berbagai wilayah Indonesia,  terdiri dari Batam, Jakarta, Bandung, Malang, Makassar, dan Yogyakarta dengan tim reviewer berbeda.

Adanya perbedaan reviewer di setiap wilayah memberi pengalaman tidak sama kepada para peserta, begitu pun dengan permasalahan yang dihadapi. Profesor Sultana dari Universitas Dipenogoro menyampaikan beberapa permasalahan yang rata-rata dialami oleh peserta, pertama peserta kesulitan mendapatkan Letter of Acception (LoA) dari perguruan tinggi tujuan, hal inilah yang menyebabkan banyak peserta gugur pada tahap awal administrasi. Selain itu, ada pula peserta yang hanya mendapatkan surat keterangan dari perguruan tinggi tujuan. Surat tersebut bukanlah LoA karena yang bersangkutan masih harus mengikuti tes lanjutan dari perguruan tinggi dituju. Kedua, tidak sedikit peserta yang masih bingung akan program studi dan perguruan tinggi tujuan. Kebanyakan hanya “ikut-ikutan” teman atau mengikuti tren yang ada tanpa memikirkan kecocokan dengan bidang keilmuannya. Ketiga, skor toefl yang tertera pada persyaratan tidak berbanding lurus dengan kemampuan Bahasa Inggris saat wawancara.

Menurut reviewer, masih banyak peserta yang kesulitan atau terbata-bata saat berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, hal ini menjadi sorotan karena Bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar saat melaksanakan studi, kecuali untuk negara khusus, seperti Jepang. Keempat, sebagian besar peserta belum memiliki supervisor, sehingga research planning (proposal penelitian) mereka masih amburadul. Seharusnya, sebelum tahapan wawancara peserta sudah berkomunikasi dengan supervisor bersangkutan dalam menyusun research planning, sehingga pada saat pelaksanaan wawancara peserta dapat meyakinkan reviewer tentang kelayakan diri untuk diloloskan.

“Ada baiknya peserta mempelajari buku-buku tentang tata cara mengikuti seleksi beasiswa, dan saat ini sudah banyak buku-buku seperti itu. Hal tersebut dimaksudkan agar peserta dapat lebih matang dalam persiapan maupun pelaksanaan seleksi. Selanjutnya, peserta wajib belajar berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, menyusun research planning yang telah dikomunikasikan dengan supervisor perguruan tinggi tujuan, research planning mengandung sesuatu yang baru bagi institusi dan negara, serta memilih supervisor dengan H indeks yang tinggi. Hal-hal tersebut akan menjadi nilai tambah saat wawancara nanti,” jelas Prof. Sultana. Sedangkan Tri Wibawa, salah satu reviewer dari FK UGM mengatakan bahwa peserta harus menjadi yang paling pintar saat mengikuti seleksi wawancara dengan percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, sesuatu yang didapatkan dengan mudah, dapat dengan mudah pula untuk dilepaskan. Namun, sesuatu yang sulit untuk didapatkan, bahkan memerlukan pengorbanan dan perjalanan yang sangat panjang, akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk dibuang. Sebuah jalan panjang menuju dosen berkualitas internasional. (udn)

 

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *